Inilah Cara Aneh Amerika Tentukan Eksekusi Teroris

Washington – Amerika Serikat (AS) tampaknya masih trauma dengan berkeliarannya teroris. Tak heran, mereka memiliki daftar yang menentukan teroris mana yang harus diburu dan dieksekusi terlebih dulu.
Inilah Cara Aneh AS Tentukan Eksekusi Teroris
Presiden AS meminta para penasihatnya memajang foto dan biografi para teroris itu, seperti halnya memajang kartu mainan untuk koleksi. Kemudian, ia akan melihat satu persatu, menentukan siapa yang harus mati dan siapa tidak.

Melengkapi ‘penunjukkan’ yang tak biasa ini, ia kemudian akan memutuskan apakah perlu dikirimkan misi pesawat tanpa awak untuk mengeksekusi teroris yang ia tunjuk. Laporan New York Times menyatakan, ini pertama kalinya terjadi di kepresidenan AS.

Rahasia dari balik ruangan Obama ini menunjukkan, mengingat masa lalunya sebagai seseorang yang memiliki bekal pendidikan hukum liberal, ia memang lebih keras dari presiden lainnya soal pemberantasan terorisme.

Pada dasarnya, pemilihan ala Obama ini tak jauh berbeda ketimbang cara mantan Presiden George W Bush. Ia pernah menempatkan wajah anggota rezim mendiang Saddam Hussein di 52 lembar kartu remi.

Sedangkan Obama, sudah menuai banyak kritik saat memerintahkan eksekusi Anwar Al Awlaki, September lalu. Awlaki adalah warga negara AS yang tinggal di Yaman dan diduga memiliki peran dalam insiden 11 September 2001.

Banyak yang khawatir, presiden Amerika akan terus menjadi hakim, juri sekaligus eksekutor terhadap nyawa warganya. Sayangnya, presiden Amerika sejak lama melakukan hal itu terhadap warga non-Amerika.

Sumber yang diwawancarai New York Times menyatakan, setiap hari ada seratus anggota tim keamanan nasional AS yang berkumpul dan menetukan siapa yang menjadi target selanjutnya untuk serangan pesawat tanpa awak.

Kementerian Pertahanan mengawasi saat Obama ditunjukkan slide demi slide PowerPoint serta satu buku berisi foto polisi (mugshot) dan biografi tersangka. Buku itu tampak seperti buku tahunan anak sekolah.

Dalam buku itu termasuk sejumlah warga Amerika dan seorang gadis berusia 17 tahun, namun tampak lebih muda. Obama kemudian menggelar pertemuan di Situation Room, Gedung Putih dengan penasihat-penasihat keamanan.

Pada akhirnya, keputusan final berada di tangan Obama. Keseluruhan proses tak semudah kedengarannya. Presiden sering bertanya, bagaimana bisa yakin bahwa si target adalah ancaman yang serius.

“Presiden menerima bahwa bisa saja terjadi kekacauan. Sebab itulah baginya, ini bukan sekadar memutuskan saja. Ini bukan sains, ini keputusan yang membutuhkan intelijensia manusia,” ujar Kepala Staf Obama pada 2011, William Daley.

Saat menerima Nobel Perdamaian 2009 lalu, Obama sudah mengotorisasi lebih banyak serangan pesawat tanpa awak ketimbang Bush dalam dua periode kepresidenannya. Ini berdasarkan buku Daniel Klaidman.

Klaidman menilai, Obama sudah menempuh jarak lebih jauh, di masa kepresidenan yang baru sebentar. Ini sesuai dengan latar belakang pendidikannya sebagai seorang pengacara.

“Ia beradaptasi dengan cepat di masa tersulit. Yakni memutuskan siapa yang dibunuh, kapan dan bagaimana hal itu bisa menyelamatkan Amerika,” demikian penggalan buku ‘Kill or Capture: The War on Terror and the Soul of the Obama Presidency’.

Di saat bersamaan, Presiden AS ke-44 ini memiliki insting untuk selalu menegakkan hukum dan melindungi yang tak bersalah. Tapi sadar, bahwa perang akan menyebabkan kekacauan, tak peduli sehati-hati apapun dilakukan.
 
◄ Newer Post Older Post ►